26 Juli 2014

Terlalu


“Gue kesana dulu ya! Kalau Dini nyariin gue, bilang ke dia, gue beli makanan disana,” ujar Lisa sekali lagi mencoba mengalahkan ramainya penonton yang dengan antusiasnya berteriak begitu salah satu personil band di panggung mungil itu melempar dua buah kaos.

Aku mengangguk. Lisa pun berjalan meninggalkanku setelah ia menepuk pundakku dan memastikan bahwa aku tak apa-apa ditinggal sendirian. Ya, aku tidak apa-apa. Sebelum aku tahu bahwa aku benar-benar sendirian ketika Dini dan dua orang temanku lainnya sudah berada jauh di depan. Tepat di depan panggung.

Sial.

Tidak begitu banyak orang yang berada di sekelilingku. Hanya beberapa orang yang ingin menikmati musik dengan santai tanpa perlu berdesakan dengan orang-orang berada di depan panggung. Di sebelah kiriku, sepasang kekasih tampak menikmati lagu sambil bergandengan tangan. Di depan ku, seorang laki-laki berkaos hitam dan topi hijau neonnya sedang berusaha mendapatkan spot yang pas untuk merekam. Sedangkan dari arah kanan, datanglah maskot dari penyelenggara acara tersebut dengan kostum merahnya. Bergoyang-goyang menikmati dentingan musik yang menggema.

Aku mengernyit. Miris. Aku bisa mati kutu sendirian disini.

Tidak. Aku tidak apa-apa kok. Sudah dua buah lagu dimainkan dan aku masih bisa menikmatinya. Lihat, kepalaku mengangguk-angguk mengikuti ketukan lagu tanpa ku sengaja. Membuktikan bahwa aku tidak apa-apa sendirian. Walaupun harus ku akui, kedua sisiku terasa kosong….

Lagu selanjutnya siap untuk dimainkan. Penonton pun mulai melambai-lambaikan tangannya di udara. Sedangkan teman-temanku sibuk merekam. Tentunya, mereka tak ingin tertinggal saat-saat seperti ini. Kapan lagi berdiri di depan panggung. Berhadapan dengan sang penyanyi dan berada di dekat keyboardist ganteng dengan wajah yang pantas dijuluki baby-face.

Kapan ya acaranya selesai, batinku begitu melirik layar ponselku yang menampilkan deretan angka jam digital.

Ku tolehkan kepalaku ke sekitar tapi belum ada tanda-tanda Lisa balik ke tempatku berdiri. Aku mengusap-usap wajahku. Sudahlah, makin lama saja aku terjebak dalam kesendirianku diantara keramaian ini.

DEG.

Tiba-tiba saja rasa hangat memenuhi telapak dan ruas-ruas jari tangan kiri ku. Sontak aku menoleh dan mencari tahu sumber dari kehangatan ini. Oh Tuhan!! Ini kan…. Tidak salah? Mataku melotot. Dia? Seorang laki-laki yang pernah mendiami ruang hatiku ada disini? Dan menggenggam tanganku??!

Aku menggeleng-gelengkian kepala dan kembali menatapnya dengan tajam tentunya. Berharap semua ini adalah ilusi dari sorotan lampu warna-warni yang terbias dari jauh. Tapi dia juga tidak hilang. Ia yang tadinya ikut menyanyikan lagu tersebut, sekarang malah membalas tatapanku dengan lembut.

Baiklah. ini bukan mimpi, khayalan, ilusi, ataupun imajinasi.

“Sendirian aja?” ujarnya diiringi senyuman yang dengan perlahan mengembang di wajahnya. Sedangkan aku hanya tersenyum masam mendengar sapaannya yang lebih terdengar seperti hinaan.

“Sebentar….” Ia melepaskan genggaman tangannya dariku dan berusaha merogoh kantong celananya. “Gue punya sesuatu buat lo,”

Mataku pun ikut melihat ke arah kantong celananya sampai ia mengeluarkan sesuatu yang berwarna-warni. Benda itu ternyata sebuah gelang. Seperti gelang rajut yang tersusun dari beberapa lapis benang berwarna-warni. Sederhana tapi manis.

“Nih!” Ia menarik tangan kanan ku dan melingkari gelang itu di bagian pergelangannya. Dengan penuh kesabaran ia simpulkan sisa benang dari gelang tersebut. “Jangan sampai hilang ya!”

Aku mengangguk dan ikut tersenyum sembari mengamati tangan kananku yang sekarang telah terhiasi gelang pemberiannya.

Lucu.

“HEI!! Udah selesai belum sih?” tiba-tiba saja suara Lisa memenuhi telinga kananku.

DEG.

Seperti dikagetkan, aku menatap Lisa tanpa suara.

Segera aku menoleh ke sebelah kiriku. Kosong. Dia. Si laki-laki tadi . . . hilang. Langsung ku putarkan tubuhku 360 derajat berharap dapat menemukannya kembali walau dari jauh. Tapi tidak ada. Jangan-jangan yang tadi itu benar khayalanku saja.

“Ett! Ditanya malah celingukan. Nyari apa sih?” tanya Lisa ikut bingung melihat wajah ku yang sedikit resah. Aku menggelengkan kepala.

Hatiku terasa mencelos. Berarti semua kejadian tadi, adegan menggenggam tangan cuma khayalan bukan nyata? Mungkin benar yang tadi itu hanya biasan dari sorotan lampu yang begitu terang. Atau mungkin, aku saja yang terlalu lelah malam ini. Ya sudahlah….

“Kita kesana aja yuk!” ajak Lisa sambil menggandeng tangan kananku. Tiba-tiba Lisa mengangkat tanganku. “Eh gelangnya lucu deh. Baru beli?”

Lho . . . . . . . . .




Kau membuat ku terlalu
jauh mengkhayalkan tentang kita
Aku disini
Sepertinya masih . . . .
berharap . . . .