30 November 2013

2NE1 - Missing You [Lyric]




geureohge neomu
pyeonhage gulji mayo
ajig neowa nan namnaminikka

eorinae cheoreom
bochaeji jom mayo
ajig shijagdo an haesseunikka

aideurui buljangnan
gateun sarangeun shirheo

jogeum umcheuryeo isseul
ppuniya nan gwaenchanha
anya sashil nan

nareul tteona bonaen
geuga ajig neomu miwoyo
chagabge shigeo beorin
nae gaseumeun ajigdo geureul

geuriwo haeyo
geuriwo haeyo
geuriwo haeyo

geuriwo haeyo
geuriwo haeyo

geureohge neomu
balghiji jom mayo
sesangeun wonrae eodu unikka

eojjeom geureohge hae
malgge useoyo (What?)
jasehi boni seulpeun pyojeongiya
I know, I’ve been there before

eoreundeurui gyesan jeogin
sarangeun shirheo

saljjag jichyeo isseul
ppuniya nan gwaenchanha
anya sashil nan

nareul tteona bonaen
geuga ajig neomu miwoyo
chagabge shigeo beorin
nae gaseumeun ajigdo geureul

geuriwo haeyo
geuriwo haeyo
geuriwo haeyo

geuriwo haeyo
geuriwo haeyo

naui jeolmeun narui sarangeun
ireohge kkeuti naneyo
geudae kkog haengboghaeya haeyo
oraen shigani jina gado
uri seoro gieog haeyo
geuttaen seoroga isseo sseumeul

geuttaen seoroga isseo sseumeul

06 November 2013

Ikhlas Sudah





Tadi hujan datang, membawa beribu kisah. Ku dengar gelak tawa dan ku dengar juga isak tangis seseorang. Aku pun disini. Berada dibalik jendela, menghitung tetesan air hujan. Melihat kilatan dan bernapas di antara hawa dingin. Uap dari hembusan napasku pun mengembun di kaca jendela. Dengan goresan jariku, bisa ku gambarkan apa saja disana.

Masih dalam kesunyian, aku mencoba untuk memejamkan mata. Meresapi segala konflik yang ada dalam pikiranku. Perlahan namun pasti, aku harus menemukan jawaban itu. Tak lama kemudian, hatiku memberontak. Ia meronta-ronta minta diberi perhatian. Seakan ada sesuatu yang ingin ia beri tahu kepadaku sampai akhirnya ia pun berbicara, “Ku ikhlaskan sudah dirimu di jalanmu.”

Ya, setelah kau membuatku menunggu lama di persimpangan jalan itu. Aku mulai tersadar bahwa dirimu akan selalu berada di jalanmu. Sampai kapanpun itu, kau akan tetap disana. Bermain dengan riangnya tanpa diriku. Aku sadar dan seharusnya aku tahu diri.

Jalanmu bukan jalanku. Dan aku sudah ikhlas merelakanmu :)

-W.A-

01 November 2013

Menunggu


Detik demi detik. Menit demi menit hingga berubah menjadi satu jam. Satu jam yang kuhabiskan untuk berdiri sendiri disini, masih menunggu untuk suatu hal yang entahlah sepertinya sangat tidak penting.

Ya, aku akui. Aku memang bodoh. Bodoh seklai untuk menunggumu yang jelas-jelasaku tahu benar bahwa jalan yang kamu lewati bukanlah jalan tempat aku menunggumu. Aku pun juga tahu bahwa seberapa lama aku menunggu, kamu takkan datang.

Tapi, apakah aku salah jika masih berharap pada kemungkinan kecil? Sebuah harapan jika mungkin saja jalanku dan jalanmu akan bertemu di titik terujung. Bukankah tak apa jika aku masih terus berharap? Walaupun harapanku hanyalah benih yang tertanam di padang pasir mencoba untuk tumbuh. Haruskah aku menyerah? Jika dirimulah yang menjadi air dan matahariku.

Aku masih disini. Berdiri dengan suatu harapan di persimpangan jalan. Bertahan untuk selalu menunggumu. Dirimu yang merupakan setitik harapan kecil diantara sejuta kenyataan yang menyiksa.

Semoga kau datang . . .