“Hey Nan!
Sorry banget ya, gue nggak bisa pulang bareng lo hari ini. Ada janji sama Riani
nih,” kata Ari begitu bertemu dengan Nanda yang menunggunya di gerbang sekolah.
“Oh iya.
Nggak apa-apa kok,” jawab Nanda sambil tersenyum semanis mungkin sebelum Ari
berlari menuju angkutan umum yang tengah berhenti di depan sekolah.
Nanda pun
berjalan menuju halte, lalu duduk disana. Ia menundukkan kepalanya dan
menghembuskan napasnya. Akhir-akhir ini, Nanda selalu merasakan sesuatu.
Sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Sesuatu yang ia sendiri tidak pernah
tahu apa. Sesuatu yang terkadang ‘mengacaukan’ pikirannya.
“Lho?
Sendirian aja, Nan. Nggak pulang bareng Ari?” tanya Denny, teman sekelas Nanda,
begitu duduk di sampingnya.
Nanda
tersentak begitu melihat Denny duduk di sebelahnya. Ia terdiam mencoba
mengingat-ingat apa yang ditanyakan Denny saat pikirannya melayang entah ke
mana.
“Hm… Enggak,”
jawab Nanda meskipun ragu apakah jawabannya tepat. Ia pun tersenyum kepada
Denny yang sedang melihatnya dengan penuh tanda tanya, mencoba menyembunyikan
sesuatu yang sedang ia rasa. Yang, entahlah… sangat mempengaruhinya hari ini.
***
Berkali-kali
Nanda melirik ponselnya yang tergeletak tak jauh dari bukunya. Sedangkan, jam
kecil yang ada di mejanya menunjukkan pukul 9.00 malam. Hari semakin gelap dan
segalannya terasa sangat sunyi. Nanda melirik ponselnya lagi. Tak ada sms, tak
ada telpon, tak ada kabar darinya selama berhari-hari. Ya, tak ada kabar
darinya. Dari ‘dia’.
Nanda
melangkahkan kakinya mendekati jendela kamar yang menghadap ke jalanan di depan
rumahnya. Pelan-pelan ia sibakkan tirai putih dengan motif kupu-kupu yang
berwarna-warni hingga seluruh pemandangan di depan jendelanya terlihat semua.
Kamarnya yang berada di lantai 2, menjadikannya lebih leluasa untuk melihat
keadaan di luar. Penjual nasi goreng keliling, ketoprak keliling, dan beberapa
pemuda komplek yang sedang berkumpul di pos dekat tikungan jalan menarik
perhatian Nanda untuk menoleh ke arah mereka karena suara tawa mereka yang agak
keras.
Namun,
itu tak lama. Nanda menatap langit yang
tidak tertutup awan, mencoba menghitung semua bintang yang ada unuk mengusir
segala kekacauan yang ada di pikirannya, bahkan yang mungkin telah merambat ke
hatinya. Tapi tak bisa. Semua ini tak berhasil. Ia telah gila. Ia telah gila
karena ‘dia’. Yang ia sendiri tidak tahu mengapa seseorang ‘dia’ dapat membuat
dirinya begitu frustasi.
Nanda
membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Udara malam itu terasa begitu
dingin, begitu menusuk. Terasa begitu menyedihkan. Melukai beberapa kenangan
yang ada di dalam otak sebelah kirinya. Tanpa sadar beberapa tetes air mata
mengalir begitu saja di pipinya.
Tiba-tiba
saja terdengar ponselnya berdering. Semakin lama semakin keras deringannya.
Nanda bangkit dari duduknya, dengan segera ia meraih ponselnya dan
mengangkatnya tanpa melihat nama sang penelpon terlebih dahulu.
“Halo,” kata
nanda dengan pelan begitu ia mengangkat telponnya. Ia tak sabar mendengar suara
si ‘dia’ yang ‘melantarkan’ dirinya berhari-hari.
“Hm… halo.
Ini nanda?” Terdengar suara dari seberang sana. Nanda terdiam. Bukan. Bukan
suara ini. Pemilik suara ini bukan ‘dia’. Benar. Ini bukan dia.
Nanda
terduduk di sebelah tempat tidurnya begitu saja. Beberapa air mata kini
mengalir lagi di pipinya, bahkan lebih deras dari yang sebelumnya. Ia menangisi
dirinya. Mengapa seseorang ‘dia’ tak pernah peduli dengan dirinya, dengan Nanda.
To be continued yaaa......










