28 Desember 2012

Kau Bersamaku




“Hey Nan! Sorry banget ya, gue nggak bisa pulang bareng lo hari ini. Ada janji sama Riani nih,” kata Ari begitu bertemu dengan Nanda yang menunggunya di gerbang sekolah.

“Oh iya. Nggak apa-apa kok,” jawab Nanda sambil tersenyum semanis mungkin sebelum Ari berlari menuju angkutan umum yang tengah berhenti di depan sekolah.

Nanda pun berjalan menuju halte, lalu duduk disana. Ia menundukkan kepalanya dan menghembuskan napasnya. Akhir-akhir ini, Nanda selalu merasakan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Sesuatu yang ia sendiri tidak pernah tahu apa. Sesuatu yang terkadang ‘mengacaukan’ pikirannya.

“Lho? Sendirian aja, Nan. Nggak pulang bareng Ari?” tanya Denny, teman sekelas Nanda, begitu duduk di sampingnya.

Nanda tersentak begitu melihat Denny duduk di sebelahnya. Ia terdiam mencoba mengingat-ingat apa yang ditanyakan Denny saat pikirannya melayang entah ke mana.

“Hm… Enggak,” jawab Nanda meskipun ragu apakah jawabannya tepat. Ia pun tersenyum kepada Denny yang sedang melihatnya dengan penuh tanda tanya, mencoba menyembunyikan sesuatu yang sedang ia rasa. Yang, entahlah… sangat mempengaruhinya hari ini.

***

Berkali-kali Nanda melirik ponselnya yang tergeletak tak jauh dari bukunya. Sedangkan, jam kecil yang ada di mejanya menunjukkan pukul 9.00 malam. Hari semakin gelap dan segalannya terasa sangat sunyi. Nanda melirik ponselnya lagi. Tak ada sms, tak ada telpon, tak ada kabar darinya selama berhari-hari. Ya, tak ada kabar darinya. Dari ‘dia’.

Nanda melangkahkan kakinya mendekati jendela kamar yang menghadap ke jalanan di depan rumahnya. Pelan-pelan ia sibakkan tirai putih dengan motif kupu-kupu yang berwarna-warni hingga seluruh pemandangan di depan jendelanya terlihat semua. Kamarnya yang berada di lantai 2, menjadikannya lebih leluasa untuk melihat keadaan di luar. Penjual nasi goreng keliling, ketoprak keliling, dan beberapa pemuda komplek yang sedang berkumpul di pos dekat tikungan jalan menarik perhatian Nanda untuk menoleh ke arah mereka karena suara tawa mereka yang agak keras.

Namun, itu  tak lama. Nanda menatap langit yang tidak tertutup awan, mencoba menghitung semua bintang yang ada unuk mengusir segala kekacauan yang ada di pikirannya, bahkan yang mungkin telah merambat ke hatinya. Tapi tak bisa. Semua ini tak berhasil. Ia telah gila. Ia telah gila karena ‘dia’. Yang ia sendiri tidak tahu mengapa seseorang ‘dia’ dapat membuat dirinya begitu frustasi.

Nanda membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Udara malam itu terasa begitu dingin, begitu menusuk. Terasa begitu menyedihkan. Melukai beberapa kenangan yang ada di dalam otak sebelah kirinya. Tanpa sadar beberapa tetes air mata mengalir begitu saja di pipinya.

Tiba-tiba saja terdengar ponselnya berdering. Semakin lama semakin keras deringannya. Nanda bangkit dari duduknya, dengan segera ia meraih ponselnya dan mengangkatnya tanpa melihat nama sang penelpon terlebih dahulu.

“Halo,” kata nanda dengan pelan begitu ia mengangkat telponnya. Ia tak sabar mendengar suara si ‘dia’ yang ‘melantarkan’ dirinya berhari-hari.

“Hm… halo. Ini nanda?” Terdengar suara dari seberang sana. Nanda terdiam. Bukan. Bukan suara ini. Pemilik suara ini bukan ‘dia’. Benar. Ini bukan dia.


Nanda terduduk di sebelah tempat tidurnya begitu saja. Beberapa air mata kini mengalir lagi di pipinya, bahkan lebih deras dari yang sebelumnya. Ia menangisi dirinya. Mengapa seseorang ‘dia’ tak pernah peduli dengan dirinya, dengan Nanda.




To be continued yaaa......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar