SMP 3 tahun. Ternyata 3 tahun nggak kerasa ya. Walaupun sebentar, telah jutaan kenangan
yang dibuat. Lucu juga kalau diinget-inget. Sekarang gue mau berflashback ria
lagi ah, mengingat-ingat kenangan gue di kelas 7, 8, dan 9. Mulai dari kelas 7
dulu yaa…
7Eucalyptus… begitu teman-temanku menyebut nama
kelas ini. Sebenernya agak aneh kalau eucalyptus dijadiin nama kelas karena
arti sebenarnya adalah daun minyak kayu putih. Tapi tetap dipakai karena unik,
seperti murid-muridnya.
Dari awal MOS gue seharusnya jadi anak 7D. Tapi
karena kelas 7F dipencar untuk membentuk 7Billingual, nama gue ikut ke acak dan
nyasar ke 7E. Awalnya gue nggak punya temen lho di 7E –yang lebih benernya lagi
gue emang belum punya temen di 41–. Dan waktu itu gue sebangku sama Nina, Nina
Karolina, di belakang kelas. Sebenarnya sih sangat menyiksa karena gue jadi
susah liat ke depan –maklum badan gue rada imut waktu kelas 7–. Waktu itu gue
disebelah kanannya Nina. Pertama gue lihat Nina, ini orang badannya besar
–menurut gue pada waktu itu–, dan sepertinya jutek sekali. Orangnya cuek banget
lagi. Dia nggak ngajak gue ngobrol lho pas gue baru sebangku sama dia. Dan hal
pertama yang gue tahu Nina punya marga! Marganya itu Si… siapa ya? Gue lupa
-_-a
Terus yang duduk di depan gue itu Dita, Anindita
Dwi Nur. Pertama kali gue denger namanya, gue kira Gita, ternyata Dita toh =3=
huhu. Dita itu orangnya lucu lho, matanya sipit dan kulitnya putih. Gue curiga,
mungkinkah Dita keturunan Jepang? Atau Cina? Masalahnya Papa-nya Dita itu seperti
orang Jepang! Teman sebangkunya Dita adalah Tami, Hutami Nur Ramadhani.
Orangnya juga tinggi, rambutnya hitam ombak, dan memakai kacamata.
Lalu, di sebelah kanan gue ada Dape –itu bukan
nama aslinya, hanya panggilan saja–. Nama aslinya adalah Daffia Nabillah. Dia
pakai kerudung dan orangnya juga baik hati lho. Dia anak pertama dari 4
bersaudara, dan adeknya cowo semua. Kalau diitung-itung, gue lebih banyakan
ngobrol dan becanda sama Daffia dibanding sama Nina.
Tapi, setelah beberapa minggu. Tempat duduk kita
diatur sama wali kelas kita, Bu Saras. Tempat duduk gue jadinya kedua dari
depan. Enak sih, bisa ngelihat papan tulisnya jelas, tapi jadi kepisah sama
Daffia. Gue duduk sama Eka O. Daffia duduk sama Dian. Sekarang di depan gue
jadi Farhan sama Amry. Sebelah kanan gue jadi Nabhan sama Dimas –setelah Dimas
masuk ke 41–. Kiri gue ada Iqsan dan Afif. Dan belakang gue ada Hariyo sama
Bagus. Nah, Daffia posisinya dibelakang Hariyo dan Bagus.
Hari demi hari makin kerasa serunya kelas 7E. Dari
Dita yang waktu maju ke depan kelas dan jadi bahan lawakan. Sebenarnya gayanya
itu yang bikin ngakak. Terus ada Afif yang baca puisi dengan begitu
ekspresifnya. Sampai Nabhan yang nggak jadi baca puisi karena menangis –hanya
dia yang tau penyebab dia tiba-tiba menangis–. Lalu ada Hariyo juga yang
berdandan ala anak cupu + bloon dengan kancing kemeja paling atas dikancing,
dasi yang diiket kencang, pake topi dan kacamata yang besar, dan gigi seri yang
atas dimajuin. Coba bayangin deh -___- Terus ada lagi kekocakan dari kelompoknya Hariyo dan Farhan sewaktu tampil drama.
Setelah UTS Semester I, diadakan POR selama
seminggu. Gue ikut tanding volley. Gak disangka ternyata dapet juara dengan
pengorbanan Dhiva yang sampe-sampe celana olahraga bagian lututnya sobek.
Waktu pembagian rapor semester I, diadakan pensi
dan bazaar. Gue, Daffia, Syifa & Ranie ngisi pensi dengan nyanyi. Dan hal
yang sempet bikin kita bingung adalah pengiringnya nggak ada. Akhirnya kita
nyari karokeannya lagu itu tapi nggak ada juga.
Hampir mau di cancel sih penampilan kita, tapi akhirnya kita berempat
nyanyi juga walaupun tanpa musik hehe -_-
Ada lagi kenangan-kenangan gue waktu kelas 7.
Waktu itu masih sekitar jam 6 kurang lah, gue udah
sampe disekolah. Ternyata si Fira, Shafira Hanif Rukmawan, juga udah sampe di
sekolah. Berhubung kelas 7E masih sepi, gue cerita yang horror-horror aja deh
sama Fira. Gue nyeritain cerita horror yang pernah terjadi di 41 yang gue pun
tau nya dari gossip anak-anak yang lain. Jadi katanya pernah ada murid
perempuan yang jatuh dari lantai 3.
Fira :
terus? Dianya mati?
Gue :
mati kali. Kayaknya sih gitu.
Dan tiba-tiba, lampu di kelas gue mati seketika.
BLEP! Reflek gue dan Fira yang masih kebawa merinding cerita horror tadi
langsung menjerit.
Gue + Fira :
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Akhirnya lampu di kelas gue menyala lagi, dan
lewatlah seseorang cowo, yang sepertinya kakak kelas atau entahlah, yang jelas
dia murid 41. Lalu gue berpikir, sepertinya orang itu yang matiin lampu lewat
sesuatu untuk mengatur nyalanya listrik di kelas-kelas (apa ya namanya) yang
letaknya persis di samping kelas gue deket tangga.
Terus ada lagi cerita di kantin. Waktu itu gue
beli bakso, dan gue bawa mangkok yang berisi kuah panas dengan sambalnya yang
merah. Karena gue duluan yang baksonya selesai diracik, gue jalan menuju keluar
dari kantin dan gue menoleh sebentar ke arah temen-temen gue yang masih pesen
baksonya. Tanpa disadari, ternyata saat gue menoleh ke belakang, gue menabrak
seseorang di depan gue dengan semangkok bakso yang gue pegang. Ups! Gue lihat
kemeja putihnya yang tersiram kuah panas dengan sambal cabe yang menempel. Gue
baru sadar kalau seseorang yang gue tabrak itu cowo dan kakak kelas.
Dia : Panas… Panas…. Panas…. (sambil menunjukkan
kemejanya yang tersiram kuah bakso super lezat itu)
Saat itu gue bener-bener nggak tau harus ngapain
lagi selain diem, ngeliatin itu kakak kelas dan temannya, dan megang semangkok
bakso yang masih ada di tangan gue. Gue bener-bener speechless. Gue udah
mengira-ngira akan ada masalah besar sama itu kakak kelas dan gue
mengutuk-ngutuk diri gue sendiri yang melakukan hal bodoh kayak gitu. Terus
Daffia muncul dari belakang bawa semangkok bakso juga.
Daffia :
Minta maaf wit.
Gue :
Kak… Maaf ya Kak… Beneran deh Kak, nggak sengaja. Nggak keliatan kak. Maaf ya
Kak (pasang tampang semelas mungkin)
Kak itu :
Nggak keliatan apanya? -_- Yaudah gapapa.
Gue :
Hehe.. Maaf ya Kak…
Kak itu :
Iya iya gapapa
Huhu sungguh kakak kelas yang baik hati. Lalu gue,
beserta semangkok bakso yang gue pegang, dan juga temen-temen gue lainnya
keluar kantin. Dan beberapa hari kemudian, gue baru tau kalau kakak kelas yang
gue tabrak pake bakso itu Kak Iban.
Lalu ada cerita gue bersama Daffia waktu pulang
dari ultahnya Bebil, Nabilla Rida Trinisa. Waktu itu hari Sabtu dan kelas 7E
ada atletik di GOR Ragunan. Gue dan beberapa anak yang lainnya diundang ke
rumah Bebil untuk sekedar makan-makan di acara ultahnya Bebil. Di rumahnya
Bebil, kita disambut mama nya Bebil terus kita ceplokin telur segala macem ke
Bebil di halaman rumahnya. Habis itu kita buka kado dengan kado nya Dian yang
bikin heboh. Dian membuat kejutan di dalam kadonya yaitu, kadonya dibungkus
beberapa lapis koran yang keliatannya jadi kado yang sungguh besar. Terus kita
makan Hokben bareng-bareng deh. Nah, pas pulang seharusnya gue sama Daffia naik
angkot S15A ke arah Ragunan. Ternyata kita salah naik, malah naik S15 doang.
Terus kita turun dan naik S15A. Tapi kita salah naik lagi. Harusnya naik yang
ke arah Ragunan malah sebaliknya. Akhirnya kita nyebrang dan berhasil naik S15A
yang ke arah Ragunan dan turun di Deptan untuk naik bus Transjakarta. Entah
kenapa, saat ‘nyasar’ pas pulang tadi. Hari terasa begitu panjang. Dan gue ngomel terus selama 'kesasar', sorry ya pe .-.v
Dan cerita gue di kelas 7 yang terakhir
adalaaaahhhhhh…… JENG JENG JENG JENG!!! Study tour ke kota kembang alias
Bandung! Yeay! Gue nggak begitu inget banyak sih pada waktu itu tapi ya gue
ceritain sedikit yang gue inget.
Gue duduk bertiga bersama Daffia dan Dian, Melisa
Dian, di bis. Di bis anak-anaknya pada rame, ada yang ikut-ikut nyanyi lagunya
JB –karena pada waktu itu JB lagi ngetop–, ada yang iseng foto-fotoin, ada juga
yang dadah ke mobil TNI sewaktu di tol.
Di Bandung, kami mengunjungi Gedung Asia Afrika
dan Museum Geologi. Terus gue juga nemuin Taman Lansia dan gue sama Bebil
ketawa-tawa. Terus pas gue lagi makan siang Daffia nyenggol gue dan makanannya
tumpah ketangan gue yang kiri. Terus ada lagi, coca cola nya Daffia menyembur
kemana-mana gara-gara kegoncang sewaktu di bis. Terus yang terakhir ki
berkunjung ke tempat yang ada air panasnya itu lho. Oh iya, di Bandung anak-anak di bis gue dadah lagi ke bis lain yang isinya bapak-bapak tua semua. sungguh murid-murid yang ramah.
Lalu, kita pulang ke Jakarta ketika hari mulai malam
kawan. Gue, Nabhan, dan Rifqi cerita yang serem-serem lagi. Dan pas sudah
sampai di 41 ortu kita udah rame, pada mau jemput.


