Tadi hujan datang,
membawa beribu kisah. Ku dengar gelak tawa dan ku dengar juga isak tangis
seseorang. Aku pun disini. Berada dibalik jendela, menghitung tetesan air
hujan. Melihat kilatan dan bernapas di antara hawa dingin. Uap dari hembusan
napasku pun mengembun di kaca jendela. Dengan goresan jariku, bisa ku gambarkan
apa saja disana.
Masih dalam kesunyian,
aku mencoba untuk memejamkan mata. Meresapi segala konflik yang ada dalam
pikiranku. Perlahan namun pasti, aku harus menemukan jawaban itu. Tak lama
kemudian, hatiku memberontak. Ia meronta-ronta minta diberi perhatian. Seakan ada
sesuatu yang ingin ia beri tahu kepadaku sampai akhirnya ia pun berbicara, “Ku
ikhlaskan sudah dirimu di jalanmu.”
Ya, setelah kau
membuatku menunggu lama di persimpangan jalan itu. Aku mulai tersadar bahwa
dirimu akan selalu berada di jalanmu. Sampai kapanpun itu, kau akan tetap
disana. Bermain dengan riangnya tanpa diriku. Aku sadar dan seharusnya aku tahu
diri.
Jalanmu bukan jalanku. Dan
aku sudah ikhlas merelakanmu :)
-W.A-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar