Detik demi detik. Menit demi
menit hingga berubah menjadi satu jam. Satu jam yang kuhabiskan untuk berdiri
sendiri disini, masih menunggu untuk suatu hal yang entahlah sepertinya sangat
tidak penting.
Ya, aku akui. Aku memang
bodoh. Bodoh seklai untuk menunggumu yang jelas-jelasaku tahu benar bahwa jalan
yang kamu lewati bukanlah jalan tempat aku menunggumu. Aku pun juga tahu bahwa
seberapa lama aku menunggu, kamu takkan datang.
Tapi, apakah aku salah
jika masih berharap pada kemungkinan kecil? Sebuah harapan jika mungkin saja
jalanku dan jalanmu akan bertemu di titik terujung. Bukankah tak apa jika aku
masih terus berharap? Walaupun harapanku hanyalah benih yang tertanam di padang
pasir mencoba untuk tumbuh. Haruskah aku menyerah? Jika dirimulah yang menjadi
air dan matahariku.
Aku masih disini. Berdiri
dengan suatu harapan di persimpangan jalan. Bertahan untuk selalu menunggumu. Dirimu
yang merupakan setitik harapan kecil diantara sejuta kenyataan yang menyiksa.
Semoga kau datang . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar