Beberapa
kata terlontarkan begitu saja dari mulutku. Tentu saja dengan suara yang kecil
karena saat ini sedang berlangsung upacara bendera. Seiring dengan petugas
upacara membacakan UUD 1945, aku pun menghafalkan beberapa istilah dalam pelajaran
Geografi. Sebenarnya jelas sekali bahwa perbuatanku ini salah. Tapi apa boleh
buat? Ulangan harian Geografi akan dilaksanakan setelah upacara ini. Tepat
setelah selesainya upacara dan tentunya setelah semua murid di kelasku duduk
dengan manis. Jadi, terpaksalah aku menuliskan beberapa istilah sulit di
selembar kertas mungil yang diam-diam ku masukkan ke dalam saku kemejaku.
Ku
akui, semua ini memang telah ku rencanakan, sampai beberapa temanku pun tahu
dan meminjam catatan kecil ini untuk disalin kemudian. Aku tak megerti, apakah
mereka menyalin untuk menghapalkannya saat upacara juga –seperti yang kulakukan
sekarang ini– atau menyelipkannya di bawah lembar jawaban. Tapi tak mungkin
mereka –termasuk aku– senekad itu. Guru Geografi kelas kami terkenal dengan
ketegasannya. Jadi, siapa pun yang ketahuan menyontek mungkin dia akan lebih
berharap untuk langsung ditelan bumi saat itu juga daripada merasa dihantui
oleh sanksi guru kami.
Sejenak
aku menghela napas. Kini, aku sudah merasa yakin terhadap apa yang ku hapalkan
dengan mengucapkan kembali istilah-istilah tadi dan melipat kembali kertas
mungil itu. Tiba-tiba saja kedua mataku menangkap sebuah tulisan bertinta merah
di salah satu sisi lipatan kertas itu. Bertuliskan “Good luck!” ditambah emoticon senyum di belakangnya. Alisku
terangkat.
Siapa
yang menuliskan ini?
“Psstt…”
panggil temanku yang berbaris tepat di sebelahku.
Ia mengangkat kedua
alisnya dan mencondongkan dagunya ke depan. Member kode bahwa ada guru yang
akan datang ke barisan kami. Dengan segera ku masukkan kertas mungil tadi ke
saku ku dengan kepala yang penuh tanda tanya akan pemberi semangat bertanda
senyum. Hm…. Siapa ya?*
by : Wita Aristawidya