05 Juni 2013

Secarik Kertas



Beberapa kata terlontarkan begitu saja dari mulutku. Tentu saja dengan suara yang kecil karena saat ini sedang berlangsung upacara bendera. Seiring dengan petugas upacara membacakan UUD 1945, aku pun menghafalkan beberapa istilah dalam pelajaran Geografi. Sebenarnya jelas sekali bahwa perbuatanku ini salah. Tapi apa boleh buat? Ulangan harian Geografi akan dilaksanakan setelah upacara ini. Tepat setelah selesainya upacara dan tentunya setelah semua murid di kelasku duduk dengan manis. Jadi, terpaksalah aku menuliskan beberapa istilah sulit di selembar kertas mungil yang diam-diam ku masukkan ke dalam saku kemejaku.
Ku akui, semua ini memang telah ku rencanakan, sampai beberapa temanku pun tahu dan meminjam catatan kecil ini untuk disalin kemudian. Aku tak megerti, apakah mereka menyalin untuk menghapalkannya saat upacara juga –seperti yang kulakukan sekarang ini– atau menyelipkannya di bawah lembar jawaban. Tapi tak mungkin mereka –termasuk aku– senekad itu. Guru Geografi kelas kami terkenal dengan ketegasannya. Jadi, siapa pun yang ketahuan menyontek mungkin dia akan lebih berharap untuk langsung ditelan bumi saat itu juga daripada merasa dihantui oleh sanksi guru kami.
Sejenak aku menghela napas. Kini, aku sudah merasa yakin terhadap apa yang ku hapalkan dengan mengucapkan kembali istilah-istilah tadi dan melipat kembali kertas mungil itu. Tiba-tiba saja kedua mataku menangkap sebuah tulisan bertinta merah di salah satu sisi lipatan kertas itu. Bertuliskan “Good luck!” ditambah emoticon senyum di belakangnya. Alisku terangkat.
Siapa yang menuliskan ini?
“Psstt…” panggil temanku yang berbaris tepat di sebelahku.
Ia mengangkat kedua alisnya dan mencondongkan dagunya ke depan. Member kode bahwa ada guru yang akan datang ke barisan kami. Dengan segera ku masukkan kertas mungil tadi ke saku ku dengan kepala yang penuh tanda tanya akan pemberi semangat bertanda senyum. Hm…. Siapa ya?*




by : Wita Aristawidya