27 April 2013

Cermin Malam


Dalam gelap malam, aku melihat cermin yang tepat berada di hadapanku menari-nari dengan lincah. Apakah ini khayalanku? Atau ini nyata?

Tanpa sadar beberapa tetes air mata mengalir begitu saja dari sudut mataku. Bukan cermin itu yang menari, tapi aku yang sedang menangis. Mata yang berkaca-kaca sejak aku menatap pantulan diriku di cermin saat ini memberi efek seolah-olah cermin itu sedang mempersembahkan tarian dan menghiburku.

“Aku tak bisa tertawa. Apa kau tidak mengerti?!” teriakku sangat kencang hingga menggema ke seluruh ruangan tempat aku berdiri.

Aku merasa lelah. Sampai ketika rasa lelah itu meluap menjadi tenaga yang begitu besar seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku dapat memukul cermin itu sampai kaca pada cermin menjadi retak dan perlahan-lahan terlepas dan menjadi beberapa pecahan yang tajam hingga menggores pangkal jariku.

Kini, aku kembali menatap cermin yang hanya tinggal setengahnya itu, selebihnya terdapat lelehan cairan merah di sisa cermin dan lantai di bawahnya.

Aku sadar. Tapi aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku tak bisa berpikir.

Perlahan, tangan kiriku menggenggam tangan kananku dengan sendirinya. Rasa perih yang diselingi dengan rasa nyeri mulai merayapi tubuhku.

Tapi apa yang kurasakan sekarang tetap tidak bisa menutupi semua yang sebenarnya kurasakan sejak berhadapan dengan cermin ini.

Tiba-tiba saja aku tak dapat merasakan apa-apa. Seperti semua kekuatanku terhisap oleh ruang waktu. Menghilang begitu saja dalam sekejap. Tubuhku mulai tak seimbang dan aku terjatuh, namun rasa gengsi rupanya belum bisa dihilangkan. Aku mengaku bisa bertahan dengan menyanggah tubuhku tentunya dengan tangan kiriku yang tidak terdapat luka sama sekali. Tapi terasa tak ada kuasa untuk kembali bangkit, hingga aku menyerah dan terbaring. Bahkan dapat dibilang posisiku hampir tertelungkup mencium lantai karena badan ku yang timpang dan lebih condong ke kiri.

Aku menangis dan hanya itulah yang bisa kulakukan sekarang.

 Semuanya semakin memburuk, itulah yang hadir di dalam pikiranku. Aku ingin meminta tolong tapi aku tak sanggup untuk berteriak. Untuk merintih pun terasa sulit seperti suara yang seharusnya selalu ada ditelan oleh gelapnya ruangan ini.

Detik demi detik, aku pun merasakan tubuhku semakin melemah. Ya, aku dapat merasakannya seiring dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangan kananku yang tak sengaja terkena sudut pecahan kaca. Begitu pun air mataku. Masih mengalir membasahi wajah dan rambut sebagai alas kepalaku.

“Mengapa tak ada yang datang?” gumamku dalam hati.

Ruangan semakin terasa gelap sampai rasanya aku tak sanggup untuk melihat apa yang ada di sekelilingku. Namun, tiba-tiba saja terselip rasa gembira dalam hatiku sampai kedua ujung bibirku ikut tertarik. Aku merasa ada yang datang. Ya, ia datang tepat di belakangku.*


~W.A~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar