Dalam gelap
malam, aku melihat cermin yang tepat berada di hadapanku menari-nari dengan
lincah. Apakah ini khayalanku? Atau ini nyata?
Tanpa sadar
beberapa tetes air mata mengalir begitu saja dari sudut mataku. Bukan cermin
itu yang menari, tapi aku yang sedang menangis. Mata yang berkaca-kaca sejak
aku menatap pantulan diriku di cermin saat ini memberi efek seolah-olah cermin itu
sedang mempersembahkan tarian dan menghiburku.
“Aku tak
bisa tertawa. Apa kau tidak mengerti?!” teriakku sangat kencang hingga menggema
ke seluruh ruangan tempat aku berdiri.
Aku merasa
lelah. Sampai ketika rasa lelah itu meluap menjadi tenaga yang begitu besar
seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku dapat memukul cermin itu sampai kaca
pada cermin menjadi retak dan perlahan-lahan terlepas dan menjadi beberapa
pecahan yang tajam hingga menggores pangkal jariku.
Kini, aku
kembali menatap cermin yang hanya tinggal setengahnya itu, selebihnya terdapat
lelehan cairan merah di sisa cermin dan lantai di bawahnya.
Aku sadar. Tapi
aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku tak bisa berpikir.
Perlahan, tangan
kiriku menggenggam tangan kananku dengan sendirinya. Rasa perih yang diselingi
dengan rasa nyeri mulai merayapi tubuhku.
Tapi apa
yang kurasakan sekarang tetap tidak bisa menutupi semua yang sebenarnya
kurasakan sejak berhadapan dengan cermin ini.
Tiba-tiba
saja aku tak dapat merasakan apa-apa. Seperti semua kekuatanku terhisap oleh
ruang waktu. Menghilang begitu saja dalam sekejap. Tubuhku mulai tak seimbang
dan aku terjatuh, namun rasa gengsi rupanya belum bisa dihilangkan. Aku mengaku
bisa bertahan dengan menyanggah tubuhku tentunya dengan tangan kiriku yang
tidak terdapat luka sama sekali. Tapi terasa tak ada kuasa untuk kembali
bangkit, hingga aku menyerah dan terbaring. Bahkan dapat dibilang posisiku
hampir tertelungkup mencium lantai karena badan ku yang timpang dan lebih
condong ke kiri.
Aku menangis
dan hanya itulah yang bisa kulakukan sekarang.
Semuanya semakin memburuk, itulah yang hadir di dalam pikiranku. Aku ingin
meminta tolong tapi aku tak sanggup untuk berteriak. Untuk merintih pun terasa
sulit seperti suara yang seharusnya selalu ada ditelan oleh gelapnya ruangan
ini.
Detik demi
detik, aku pun merasakan tubuhku semakin melemah. Ya, aku dapat merasakannya
seiring dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangan kananku yang tak
sengaja terkena sudut pecahan kaca. Begitu pun air mataku. Masih mengalir
membasahi wajah dan rambut sebagai alas kepalaku.
“Mengapa tak
ada yang datang?” gumamku dalam hati.
Ruangan semakin
terasa gelap sampai rasanya aku tak sanggup untuk melihat apa yang ada di
sekelilingku. Namun, tiba-tiba saja terselip rasa gembira dalam hatiku sampai
kedua ujung bibirku ikut tertarik. Aku merasa ada yang datang. Ya, ia datang
tepat di belakangku.*
~W.A~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar