Baru saja aku
melepaskan semua rasa lelah dan kepenatan yang memenuhi kepala ku ini, tapi
kenyataannya aku harus mengikat tali sepatuku lagi dengan kencang. Ya, aku
harus berdiri dan mulai mengambil langkah. Aku harus melanjutkan perjalanan yang
sempat terhenti dua kali di tempat yang pernah ku anggap sebagai tempat
ternyaman di dunia. Namun, mau bagaimana lagi, ketika takdir berbicara aku
tentu harus menurutinya. Tak peduli itu akan menyakitkan atau akan membuatku
merasakan lelah yang bertubi-tubi kembali hanya untuk mencari tempat baru yang
mungkin saja disana aku akan tinggal. Aku harus tetap berjalan.
Setelah aku mengerti apa
itu arti dari kata ‘kecewa’ ketika ditinggal sendiri di tempat indah itu,
tempat pertama yang ku jadikan sandaran untuk tidur beberapa saat. Orang yang
seharusnya menemaniku di bangku itu, malah pergi meninggalkan ku diam-diam saat
aku menikmati mimpi indah yang dibuatnya. Tanpa pemberitahuan, tanpa
peringatan. Ya, setelah itu, aku sempat memakai kembali sepatuku dan mengikat
talinya dengan kencang. Mungkin saja, saat itu tidak terlalu kencang. Hingga
akhirnya, aku terjatuh karena menginjak tali sepatuku sendiri yang terlepas di
tengah-tengah perjalananku dari tempat indah itu.
Kaki ku terluka.
Rasanya terlalu perih untuk melanjutkan perjalanan saat itu. Sudah merasakan
terluka ‘di dalam’, sekarang aku harus merasakan sakit lagi di anggota gerak
tubuhku. Tanpa pikir panjang, aku pun memutuskan untuk tinggal di tempat itu.
Setidaknya keputusanku itu bukanlah hal yang buruk. Apalagi disana ada
seseorang yang baik mengobati ku tanpa keluhan. Tapi apa daya lagi, ternyata
takdirku berkata lain lagi. Ada orang lain yang datang ke tempat itu, mengajak
bicara sang ‘pengobat luka’ tanpa menghiraukan kehadiranku yang sedang menahan
rasa perih akibat reaksi kimia obat di atas luka ku. Melihat mereka begitu
akrab berbicara dan bercanda, membuatku tersadar. Bahwa bukan disinilah
tempatku seharusnya berada. Bukan di panggung inilah, aku berdrama.
Aku harus pergi. Aku
harus memakai sepatuku lagi dan mengikat talinya lebih kencang dari sebelumnya.
Agar aku tak terjatuh lagi. Agar aku tak terluka lagi. Agar aku bisa menemukan
tempat dimana seharusnya aku berada. Agar aku bisa sampai ke tujuan akhir dari
perjalanan ku ini.
Entah, sampai kapan.
Tapi, aku harus tetap berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar