Matahari belum tampak dengan
jelas, namun seluruh jalanan Ibukota sudah memperlihatkan kesibukan penduduknya.
Berpuluh-puluh sepeda motor diselingi mobil pribadi dan transportasi umum lewat
begitu saja di depan mata Dewi yang berseragam SMA Nusa Bangsa dengan lengkap. Raut
wajah cemas Dewi semakin menjadi-jadi. Berkali-kali ia melihat ke arah ujung
jalan dan jam tangannya, tapi tak satu pun angkutan umum yang biasa ia naiki ke
sekolah menampakan diri. Padahal, hanya tersisa waktu 20 menit sebelum bel
sekolah berbunyi dan butuh waktu sekitar 20 menit juga untuk sampai ke
sekolahnya. Itu pun kalau tidak terkena macet.
Dewi : “Duh! Mana
sih angkotnya?”
Pusing
mulai menjalari kepalanya. Dewi pun menunduk dan memejamkan matanya. Sesekali ia
pijat kedua alisnya. Tiba-tiba saja, sebuah motor menepi dan berhenti tepat di
depan Dewi. Di atas motor itu, seorang laki-laki dengan celana seragam abu-abu
dan tas hitam yang menempel di punggungnya, membuka kaca helmnya.
X : “Hei!”
Dewi : (menatap si
laki-laki-yang-tak-diketahuinya itu dengan sinis)
X : “Lo
anak Nusa Bangsa kan? Lebih baik lo naik ke motor gue daripada lo telat.”
Dewi : “…” (masih
menatap laki-laki itu dengan sinis)
X : “Eh, kok malah diem. Ngeliatin gue
mulu lagi. Ganteng ya gue? Hehe,” (tersenyum ke Dewi sambil membenarkan kerah
jaketnya)
Dewi : “Ck…. Apa sih,” (mengalihkan pandangan ke
ujung jalan)
X : (menoleh ke belakang, ikut
melihat ke ujung jalan) “Lo itu mau nunggu angkot sampe kapan lagi? Lihat tuh,
nggak ada angkot yang lewat. Ayo naik!”
Dewi : “Weits! Haruskah gue percaya dengan orang
yang nggak gue kenal sama sekali? Hm?”
X : “Haha…. Nanti juga kenal kok. Kenal
banget malah,” (tersenyum kembali ke Dewi) “Nih, ya, gue kasih tahu. Sekalinya ada
angkot yang lo tungguin itu lewat, angkot itu bakalan penuh banget dan lo nggak
bisa naik.”
Dewi : (memutar bola matanya)
Tanpa menunggu
waktu yang lama, angkot yang ditunggu Dewi lewat. Dan benar. Benar apa yang dikatakan
laki-laki-sok-tahu-yang-tidak-diketahuinya itu. Angkot yang lewat seperti sudah
kelebihan penumpang, hingga ada bapak-bapak yang berdiri di pintu angkotnya.
X : “See?” (melirik ke Dewi) “Mendingan lo naik sekarang karena 15 menit
lagi bel.” (menyalakan mesin motornya)
Dewi : “Oke oke! Tapi sekarang gimana caranya
gue bisa percaya sama lo? Lo bakal nganterin gue sampe sekolah dan bukan nyulik
gue”
X : (menghela napas) “Sebagaimana lo
percaya bahwa hari ini kelas lo ada ulangan Matematika sama Pak Ari,”
Dewi : (melongo) “Kok lo tahu?”
X : “Sekali lagi lo tanya ini-itu,
gue bakal menutup niat gue untuk ngeboncengin lo.” (menjalankan motornya)
Dewi : “Ah iya iya!! Gue percaya. Gue ikut lo.”
(sambil berlari kecil ke motor laki-laki itu yang agak sedikit menjauh)
X : “Nah, sip!” (memberhentikan
motornya)
Dewi
pun menaiki motor tersebut dengan wajah yang menggambarkan isi hatinya yang
agak jengkel. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Daripada ia telat saat jam
pelajaran Pak Ari.
X : “Karena
tadi lo udah menunda waktu gue, jadi jangan protes kalo gue agak ngebut.”
Dewi : “Eh..Tapi
kan….”
X : “Ssstt..”
Dewi : “Oke….”
(cemberut)
X : “Jalaaannnn!!!”
(menjalankan motornya)
Motor yang dinaiki dua orang
remaja SMA kini melaju dan menyatu dengan padatnya jalan di Kota Jakarta ini. []
*PUFF*
Jeng jeng!!! Gue muncul lagi deh keisengan gue. Btw, emang sih baru sedikit ceritanya tapi nggak apa lah yaa. Cerita ini (bukan) berdasarkan kisah asli. Tapi ide ceritanya sempet lewat di otak gue disaat gue juga lagi nunggu angkot pas mau ke sekolah. Sayangnya, gue nggak bernasib sama dengan Dewi di cerita ini HAHAHA kasian sekali. Thanks ya sudah mau baca. Yang mau comment juga boleh kok :)
-W.A-
Kalo ceritain tentang pengalaman temen sendiri udah pernah belom kak? I dare you loh AHAHAHA
BalasHapus