Aku kembali menatap dirimu yang duduk di hadapanku.
Wajahmu memancarkan senyuman yang penuh arti. Tapi senyum itu bukan untuk aku. Melainkan
untuk seorang perempuan dengan senyum manisnya disana, yang duduk tak jauh dari
kita. Aku mengikuti arah pandanganmu. Mendengar percakapan kecil diantara
kalian. Dan tak lama kemudian, kau berbicara kepadaku kembali. Namun, aku hanya
bisa menatapmu. Tepat di hitam kedua bola matamu.
Sudah. Tak perlu banyak bicara. Tak perlu banyak
bergaya.
Cukup. Aku sudah tahu apa yang kau katakan di
pikiranmu. Aku juga tahu apa yang kau gumamkan di dalam hatimu.
Aku bukanlah wajah yang selalu kau cari di
hari-harimu. Bukan pulalah suara yang selalu kau rindu di detik-detikmu. Lalu,
untuk apa kau duduk di hadapanku dan terus bertanya-tanya “Ada apa?”