Angin malam itu bertiup lembut seiring dengan goyangan
dedaunan di pohon. Benar lembut, namun terasa menusuk ke dalam kulit. Begitu
pula dengan tetesan air hujan yang mengalir di kaca jendela kamar itu. Perlahan
turun membasahi seluruh permukaannya. Tanpa segan-segan, hawa dingin pun
menyelimuti kamar mungil itu. Mungkin juga menyelimuti hati pemilik ruangan itu
yang juga sudah dingin sebelumnya.
Ya, sang pemilik kamar yang mempunyai tubuh tinggi dengan
rambut sedikit berantakan itu sedang bersandar di balik jendela. Kedua mata
laki-laki itu terus-menerus menatap keluar jendela dengan mulut yang membisu.
Tak terasa sudah 2 jam ia berada dalam posisi tersebut. Menghela napas panjang
sekali-kali dengan kedua bola mata yang mengikuti gerak jatuhnya tetesan air
hujan di kaca jendela. Mungkin matanya terlihat fokus pada tetesan air hujan
itu, namun pikirannya sudah melayang entah kemana. Sepertinya, ia sudah
terhisap oleh alam bawah sadarnya yang sedang memutar kembali jutaan kenangan
di dalam memori otaknya. Bagaikan film, semua kenangan itu terlihat jelas di
depan matanya hingga tak sadar ia pun meneteskan air mata yang ikut mengalir
seirama dengan tetesan air hujan di jendela.
“AARGGHH!!!”
Laki-laki itu memukul meja yang ada di dekatnya. Ia tak
tahu bagaimana melampiaskan emosinya yang sudah meluap selain memukulkan
tangannya sendiri ke meja.
Ia menyesal. Sekarang ia benar-benar merasa menyesal.
Mengapa ia tak menyadari semuanya dari awal? Mengapa dirinya pun tak
mengakuinya lebih dulu? Mengapa waktu kini tak bisa diulang? Mengapa ia baru
merasakan semua perasaannya ketika yang ia butuhkan sudah pergi jauh?
Air matanya kini mengalir lebih deras. Dadanya pun terasa
sangat sesak. Hati dan pikirannya terus-menerus menyalahkan keegoannya sewaktu
dulu. Sewaktu semua ini belum terjadi. Tapi bagaimana lagi? Semua sudah telat.
Kini ia hanya bisa menyesal, menyesal, dan menyesal meskipun penyesalannya itu
takkan membuahkan hasil ataupun merubah apa yang terjadi sekarang.
Ia pun mengusap-usap matanya. Berusaha memberhentikan air
mata yang keluar tanpa ia hendaki. Setidaknya air mata dan rasa sesak di
dadanya dapat dikurangi. Laki-laki itu berjalan ke bangku yang ada di sebelah
meja. Rasa penyesalannya tadi membuatnya sedikit lelah. Tiba-tiba saja ada yang
menarik perhatiannya melalui sudut mata kirinya. Sebuah surat yang masih
lengkap dengan amplop soft pink nya,
terbaring tak tersentuh di atas meja yang penuh akan kertas-kertas bersketsa.
“Sehari setelah ia
dirawat di rumah sakit, dia ngasih ini ke gue. Dan sepertinya, surat ini buat
lo,”
Seketika terngiang kembali kata-kata temannya itu begitu
ia memegang surat itu.
Ya. Surat ini pemberian seseorang yang dititip ke temannya
untuknya. Seseorang yang membuatnya menyesal daritadi. Seseorang yang
membuatnya terus-menerus merasa bersalah. Seseorang yang ternyata ia butuhkan
sekarang.
Namun rasa penasaran akan isi amplop itu ternyata mampu
mengalahkan rasa bersalahnya. Segera ia membuka amplop itu dengan perlahan.
Takut menyobek surat cantik itu. Setelah dibuka amplop itu, terdapat beberapa
lembar kertas yang dilipat rapi dan dibaliknya terdapat foto dirinya bersama
seseorang perempuan. Perempuan yang
merupakan pengirim surat itu. Viana namanya.
Ia tertegun memandangi foto itu. Dua wajah ceria
tergambarkan disana. Sepertinya, foto itu diambil saat acara sekolah. Dilihat
dari gedung sekolah sebagai latar belakangnya. Ditambah dirinya dan Viana yang
memakai seragam putih abu-abu. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat.
Menyimpulkan sebuah senyum yang sederhana. Jujur, ia rindu saat-saat itu.
Penasaran dengan isi suratnya, langsung ia buka lipatan
surat itu. Terlihat pula lah goresan-goresan tinta hitam yang merangkaikan
kata-kata dengan cara yang khas. Ya, ini benar-benar tulisan Viana. Indah
sekali. Membuatnya tak sabar untuk membaca kata pertama dari surat itu.
Dear Fariz…
Sapaan yang cukup
manis, batin laki-laki yang bernama Fariz itu. Matanya pun langsung menuju
paragraf baru dari surat itu. Terus saja ia membacanya. Rasanya menyenangkan
membayangkan Viana mengucapkan kata-kata yang terulis pada surat itu. Ya,
kantuk yang datang tak bisa menghentikan kedua bola mata yang terus menyusuri
baris-baris yang terisi oleh kalimat yang membawakannya kembali ke saat dimana
ia bersama Viana. Sang pengisi hati dingin itu.
***
Satu jam kemudian, Fariz pun terbaring di tempat tidurnya.
Ya, ia merasa malam itu dirinya sangat kacau. Badannya pun mulai meriang dan
kepalanya sudah terasa pusing tak karuan. Mungkin ia sakit. Ya. Mungkin ia
sakit.
Surat Viana yang telah habis dibacanya sekitar 5 menit
yang lalu, membuat hatinya semakin terluka. Begitu juga dengan badannya. Ikut
merasakan sakit yang dirasakan hatinya terlebih dulu.
Mata Fariz pun terpejam dan dalam sunyi hatinya pun
menggumam.
Ohh Viana…. Maafkan
aku. Bukannya aku tak membaca perasaamu selama ini. Aku hanya takut. Aku hanya
takut kehilanganmu jika kita bukanlah teman lagi. Aku hanya takut, kamu akan
menjauhi ku ketika kamu pun mengetahui isi hatiku. Maafkan aku Viana. Aku pun
tak ingin semuanya terjadi. Tapi tenanglah, walaupun sekarang alam yang
memisahkan kita. Aku tetap mencintaimu, Viana…
Kau, pengisi hatiku,
penjaga jiwaku, pewarna hidupku. Ku mohon.. Jagalah cinta kita. Agar abadi di
akhirat nanti….Selamat jalan cinta……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar