15 Desember 2013

Berjumpa Kembali



Sore itu matahari masih terus memamerkan kekuatannya. Panasnya yang terik itu pun mampu membuat tetesan air keringat terjun dari pelipisku dan juga membuat kerongkongan ini terasa sangat kering. Ku kipaskan sapu tanganku dengan gerakan memutar, berharap angin akan menghampiriku walau sejenak. Ya, lagi-lagi cuaca hari ini sedang tidak mau bersahabat denganku. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah berjalan cepat keluar dari sekolah yang sekali lagi untuk hari ini terasa seperti neraka.

“Hai!” sapa temanku. Aku pun tersenyum dan membalas sapaan temanku itu. Diam-diam aku memerhatikannya yang sedang berjalan cepat dengan tangan penuh akan kantung plastik hitam ke gerbang sekolah.

Aku pun masih terdiam, memandangi temanku yang kini bergabung dengan murid yang lain. Mereka juga sibuk mengatur kantung-kantung plastik itu di atas meja. Oh iya! Aku baru teringat! Hari ini sekolahku mengadakan penyembelihan hewan-hewan qurban dalam mengikuti dan menajalankan syari’at agama Islam di hari Idul Adha. Pantas saja, temanku yang satu ini sibuk sekali. Ternyata ia menjadi salah satu panitia dalam acara ini dan ia sedang akan membagikan daging hewan qurban ke warga-warga sekitar yang kurang mampu secara ekonomi. Aku tersenyum, bersyukur atas kepedulian sekolahku dalam acara ini.

Seiring dengan langkahku yang semakin melambat ketika berada di dekat gerbang sekolah, aku pun semakin jeli memperhatikan kegiatan mereka. Anggota Rohis yang menjadi panitia terlihat sangat sibuk, namun mereka masih sempat memberi senyum dan tawa antara satu dengan yang lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman dekatku, wajar saja jika aku ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Ya, aku masih tersenyum sampai pandanganku berhenti di sebuah titik, di salah satu orang.

Dia. Dia yang memakai baju putih itu sukses menyita perhatianku. Tubuhnya yang tegap dan tinggi, serta gaya rambutnya yang khas mampu membuatku melupakan rasa panas yang sedari tadi menyiksaku. Caranya tersenyum dan tertawanya pun masih sanggup mengundang angin sejuk yang kini menerpa wajahku.

Oh…. Tidak….
Aku terjebak lagi. Terjebak ke dalam ruang yang pernah ia tinggalkan untuk beberapa lamanya.
Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menatapnya saat ia melemparkan senyumnya yang istimewa di mataku.

Dia. Aku berjumpa kembali dengannya. Dengan dia sang pemberi warna dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar