Sore itu matahari masih
terus memamerkan kekuatannya. Panasnya yang terik itu pun mampu membuat tetesan
air keringat terjun dari pelipisku dan juga membuat kerongkongan ini terasa
sangat kering. Ku kipaskan sapu tanganku dengan gerakan memutar, berharap angin
akan menghampiriku walau sejenak. Ya, lagi-lagi cuaca hari ini sedang tidak mau
bersahabat denganku. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah berjalan cepat keluar
dari sekolah yang sekali lagi untuk hari ini terasa seperti neraka.
“Hai!” sapa temanku. Aku
pun tersenyum dan membalas sapaan temanku itu. Diam-diam aku memerhatikannya
yang sedang berjalan cepat dengan tangan penuh akan kantung plastik hitam ke
gerbang sekolah.
Aku pun masih terdiam,
memandangi temanku yang kini bergabung dengan murid yang lain. Mereka juga
sibuk mengatur kantung-kantung plastik itu di atas meja. Oh iya! Aku baru
teringat! Hari ini sekolahku mengadakan penyembelihan hewan-hewan qurban dalam
mengikuti dan menajalankan syari’at agama Islam di hari Idul Adha. Pantas saja,
temanku yang satu ini sibuk sekali. Ternyata ia menjadi salah satu panitia
dalam acara ini dan ia sedang akan membagikan daging hewan qurban ke
warga-warga sekitar yang kurang mampu secara ekonomi. Aku tersenyum, bersyukur
atas kepedulian sekolahku dalam acara ini.
Seiring dengan
langkahku yang semakin melambat ketika berada di dekat gerbang sekolah, aku pun
semakin jeli memperhatikan kegiatan mereka. Anggota Rohis yang menjadi panitia
terlihat sangat sibuk, namun mereka masih sempat memberi senyum dan tawa antara
satu dengan yang lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman dekatku,
wajar saja jika aku ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Ya, aku masih
tersenyum sampai pandanganku berhenti di sebuah titik, di salah satu orang.
Dia. Dia yang memakai
baju putih itu sukses menyita perhatianku. Tubuhnya yang tegap dan tinggi,
serta gaya rambutnya yang khas mampu membuatku melupakan rasa panas yang sedari
tadi menyiksaku. Caranya tersenyum dan tertawanya pun masih sanggup mengundang
angin sejuk yang kini menerpa wajahku.
Oh…. Tidak….
Aku terjebak lagi. Terjebak
ke dalam ruang yang pernah ia tinggalkan untuk beberapa lamanya.
Aku tidak sanggup. Aku
tidak sanggup menatapnya saat ia melemparkan senyumnya yang istimewa di mataku.
Dia. Aku berjumpa
kembali dengannya. Dengan dia sang pemberi warna dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar