Sore ini aku berjalan di jalan kecil. Sendiri menikmati
langit senja. Seiring dengan langkahku, angin terus menerus menerpaku. Menyentuh
setiap jengkal kulitku. Membelai lembut helai-helai rambutku. Hingga membawakan
ingatanku akan seseorang.
Dalam suasana seperti ini, aku merasa terjebak
kembali ke dalam sebuah kenangan. Tiba-tiba saja, semua terasa menjadi hampa. Aku
merasa kehilangannya. Sosok yang selama ini melengkapi hidupku. Sosok ketika ia
hadir dalam hari-hariku.
Sepintas aku teringat tingkah lakunya yang khas,
yang aku hapal benar sejak aku pertama kali bertemu dengannya.
Dia.
Dia yang sebenarnya telah ku ketahui sejak lama,
tapi baru hari itu aku mulai akrab dengannya. Dia selalu seperti itu. Membuatku
jengkel, namun juga tetap bisa membuatku tertawa.
Dia.
Dia yang selalu penuh kejutan dengan gerakan yang
lincah dan suara yang merdu. Dia yang selalu bertanya, apakah yang dilakukannya
waras? Dia yang selalu mengaku bahwa dirinya aneh, memalukan, tidak pintar, dan
juga tidak menarik. Seandainya ia tahu, di mata ku ia mendekati sempurna.
Dia.
Dia yang selalu menanyakan apa yang sedang terjadi
padaku. Yang selalu menawariku untuk ditemaninya. Yang selalu tahu apa yang
harus ia lakukan di depanku. Ia yang terkesan cuek tetapi selalu mencoba untuk
perhatian.
Dia itu
tidak bisa didefinisikan, diartikan. Dia tetaplah dia. Yang apa adanya, namun
tetap sopan. Ia yang tidak diinginkan, tapi selalu diharapkan. Ia yang tak
berbuat banyak, tapi sangatlah berarti.
Dia.
Dia akan selalu tinggal dalam sebuah kenangan.
-W.A-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar