15 Desember 2013

Dia dalam Kenangan


Sore ini aku berjalan di jalan kecil. Sendiri menikmati langit senja. Seiring dengan langkahku, angin terus menerus menerpaku. Menyentuh setiap jengkal kulitku. Membelai lembut helai-helai rambutku. Hingga membawakan ingatanku akan seseorang.

Dalam suasana seperti ini, aku merasa terjebak kembali ke dalam sebuah kenangan. Tiba-tiba saja, semua terasa menjadi hampa. Aku merasa kehilangannya. Sosok yang selama ini melengkapi hidupku. Sosok ketika ia hadir dalam hari-hariku.

Sepintas aku teringat tingkah lakunya yang khas, yang aku hapal benar sejak aku pertama kali bertemu dengannya.

Dia.
Dia yang sebenarnya telah ku ketahui sejak lama, tapi baru hari itu aku mulai akrab dengannya. Dia selalu seperti itu. Membuatku jengkel, namun juga tetap bisa membuatku tertawa.

Dia.
Dia yang selalu penuh kejutan dengan gerakan yang lincah dan suara yang merdu. Dia yang selalu bertanya, apakah yang dilakukannya waras? Dia yang selalu mengaku bahwa dirinya aneh, memalukan, tidak pintar, dan juga tidak menarik. Seandainya ia tahu, di mata ku ia mendekati sempurna.

Dia.
Dia yang selalu menanyakan apa yang sedang terjadi padaku. Yang selalu menawariku untuk ditemaninya. Yang selalu tahu apa yang harus ia lakukan di depanku. Ia yang terkesan cuek tetapi selalu mencoba untuk perhatian.

Dia itu tidak bisa didefinisikan, diartikan. Dia tetaplah dia. Yang apa adanya, namun tetap sopan. Ia yang tidak diinginkan, tapi selalu diharapkan. Ia yang tak berbuat banyak, tapi sangatlah berarti.

Dia.
Dia akan selalu tinggal dalam sebuah kenangan.

-W.A-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar